Hidup Lagi, Ekspor Kayu Jati Putih ke Jepang

12 06 2010

JUMAT, 16 OKTOBER 2009 | 03:11 WITA

Kendari, Tribun – Pengusaha di Sulawesi Tenggara (Sultra) kembali menjajaki ekspor kayu jati putih (gemelina arborea) ke Jepang setelah terhenti selama hampir 10 tahun.
“Pada 1998 hingga 2002 ekspor kayu jati pernah kami lakukan namun terhenti karena ketersediaan bahan baku lokal terbatas,” kata salah seorang eksportir kayu jati  Ilham Tahir di Kendari, Kamis (15/10).
Menurut Ilham, prospek ekspor kayu jati cukup besar namun karena ketersediaan bahan baku pada waktu itu yang terbatas,  kegiatan ekspor pun hanya dilakukan pada waktu tertentu.
Namun, belakangan ini tanaman kayu jati putih yang dikembangkan masyarakat di sejumlah daerah di Sultra rata-rata sudah mulai berproduksi namun terkendala pada masalah pemasaran. “Dengan peluang ini, kami akan kembali berupaya untuk kegiatan ekspor dengan harapan ketersediaan bahan baku mencukupi,” katanya dikutip Antara.
Di Jepang, bahan baku kayu jati putih tersebut digunakan untuk berbagai kebutuhan industri perabot rumah tangga yang menghasilkna berbagai produk cinderamata bernilai jual karena serat dan warna kayu  bila sudah diolah hasilnya cukup bagus. Bahkan, pengusaha di Jepang menjadikan produk kayu jati putih untuk menghiasi bagian atas (langit-langit) rumah, hotel, dan restoran mewah.
“Meskipun dari segi kualitas kayu itu masuk dalam kategori  sebagai kayu kelas bawah, namun karena proses pengolahannya dengan menggunakan teknologi maju, harga jual dipasaran tetap bersaing dengan produk kayu kualitas tinggi,” katanya.
Ilham yang juga sabagai tokoh masyarakat yang merintis usaha pengembangan dan penyediaan bibit kayu jati putih pada era 1997 itu mengatakan, luas areal tanaman kayu jati milik petani yang siap diproduksi saat ini mencapai ribuan hektare.
“Kalau harga kayu jati putih pada 2000-an hanya berkisar antara Rp 5 juta per ha, dengan permintaan pasar mancanegara saat ini harganya bisa mencapai Rp 50-Rp100 juta per hektare, tergantung pada diameter kayu tersebut,” katanya.(tb)
(sumber : Tribun Timur)
Advertisements




Kayu Jabon salah satu alternatif kayu Sengon

12 06 2010

 

Sengon adalah jenis pohon yang sangat populer di masyarakat untuk berbagai keperluan. Namun, seiring kelemahan sengon yang kerap terserang hama dan penyakit, pohon jabon muncul sebagai alternatif pengganti sengon.
Sabtu (31/1), Himpunan Profesi Mahasiswa Tree Grower Community (TGC) Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor (IPB) mengadakan seminar bertajuk Peluang Investasi Kebun Jabon Sebagai Pengganti Sengon di Lahan Tidur.
Menurut Prof Surdiding Ruhendi yang menjadi pembicara dalam kegiatan itu, tanaman jabon memiliki prospek yang baik untuk dikembangkan karena bernilai ekonomis tinggi. “Saya rasa tanaman jabon cukup memenuhi syarat untuk industri kayu lapis. Kayu jabon mudah dibuat venir (lapisan tipis kayu yang diperoleh dengan cara dikupas, red) dan mudah dikeringkan,” paparnya.
Surdiding mengemukakan pemanfaatan jabon cukup banyak. Diantaranya sebagai bahan baku korek api, peti pembungkus, cetakan beton, mainan anak-anak, pulp dan konstruksi darurat yang ringan.
Hal tersebut juga ditegaskan pembicara PT Andatu Lestari Plywood Lampung Artha Aryesta. Menurut dia, keterbatasan bahan baku menyebabkan perusahaan-perusahaan yang memproduksi kayu lapis harus memilih kayu-kayu yang terdapat pada lahan masyarakat sekitar.
“Misalnya, perusahaan kami bekerjasama dengan masyarakat tani sekitar. Kami bagikan bibit dan setelah panen kami pasti beli kepada petani yang bersangkutan dengan harga yang pantas,” paparnya.
Pohon jabon itu sendiri adalah jenis pohon asli Indonesia yang secara alami menyebar di seluruh Sumatera, Jawa Barat, Jawa Timur, Kalimantan Selatan dan sebagainya. Pohon ini memiliki bebas cabang 30 meter dan memiliki diameter hingga 160 sentimeter.
Menurut Irdika Mansur yang juga menjadi pembicara seminar, pohon jabon bisa dikatakan sebagai salah satu jenis pohon unggulan. Selain bisa merontokkan sendiri cabang-cabangnya, pohon jabon juga memiliki kecepatan tumbuh yang relatif singkat. Pohon jabon berpotensi dikembangkan sebagai pengganti sengon yang kerap terserang hama dan penyakit.
Pembicara lain dalam seminar tersebut adalah Dirjen Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial (RLPS) Indriastuti. Dia menjelaskan tentang bagaimana potensi lahan kritis untuk pengembangan jabon. Dalam pemaparannya berdasarkan hasil identifikasi Balai Pengelolaan DAS, di Indonesia terdapat 77 juta hektare lahan kritis. Untuk itu, dia sangat mendukung kebijakan pemerintah dalam hal rehabilitasi hutan.
Menurut dia, program-program Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL) seperti Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan (GERHAN) perlu terus ditingkatkan.
Selain mahasiswa, hadir pula kelompok tani dari berbagai daerah seperti Sumedang, Banjarnegara, Cihideung dan sebagainya. Tak ketinggalan elite bisnis turut hadir dan diharapkan bisa ikut ambil bagian dalam pemanfaatan pohon jabon.
Menurut Ketua TGC Muhammad Rifai, acara ini untuk menginformasikan dan memberi gagasan kepada masyarakat terkait peluang investasi kebun jabon sebagai alternatif tanaman sengon. Melalui seminar ini, TGC juga mendukung dan merangsang minat masyarakat maupun elite bisnis dalam program pemanfaatan lahan tidur.
Sumber : Radar Bogor -http://kayujabon.blogspot.com-