Mengenal Jati Putih

23 08 2011

Jati Putih
Gmelina arborea Roxb.
Nama umum
Indonesia:    Jati putih
Gmelina arborea

Klasifikasi
Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
- Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
– Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji)
— Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
—- Kelas: Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
—– Sub Kelas: Asteridae
—— Ordo: Lamiales
——- Famili: Verbenaceae
——– Genus: Gmelina
——— Spesies: Gmelina arborea Roxb.

Kerabat Dekat
Wareng

Buku
•    Mengebunkan Jati Unggul: Pilihan Investasi Prospektif (Nia Tini & Khairul Amri)
•    Khasiat & Manfaat Jati Belanda: Si Pelangsing Tubuh & Peluruh Kolesterol (Dra. Herti Maryani)
•    Khasiat dan Manfaat Bawang Putih Raja Antibiotik Alami (Dra. Iyam Siti Syamsiah, Apt & Tajudin, S.Si)
•    Temu Putih, Tanaman Obat Anti Kanker (Drs. Cheppy Syukur)
•    Budi Daya Bawang Putih, Merah, dan Bombay (Singgih Wibowo)
•    Budi Daya Jati (Yana Sumarna)

http://www.plantamor.com/





Ciri-ciri bibit dan pohon sengon solomon

23 08 2011

Ketika trend naik, penipuan muncul…begitu juga dengan bibit sengon solomon, terutama kitta harus hati-hati dengan penawaran biji sengon solomon import.

Ciri-ciri biji sengon solomon yang benar :

-Bentuk lebih panjang

- Cenderung runcing dan pipih

Bila telah tumbuh ciri-ciri pohonnya kurang lebih seperti dibawah ini :

- Kanopi terdiri dari ranting yang relatif kecil

- Batang utama nampak jelas beda ukuran dibandingkan cabang

- Di usia 5 tahun ke atas garis – garis ruas nampak jelas membedakan dengan sengon lokal

Banyak orang yang memanfaatkan ketidak tahuan orang yang antusias ingin menanam sengon, padahal, kalo jujur aja ga bikin rugi kok.





Hidup Lagi, Ekspor Kayu Jati Putih ke Jepang

12 06 2010

JUMAT, 16 OKTOBER 2009 | 03:11 WITA

Kendari, Tribun – Pengusaha di Sulawesi Tenggara (Sultra) kembali menjajaki ekspor kayu jati putih (gemelina arborea) ke Jepang setelah terhenti selama hampir 10 tahun.
“Pada 1998 hingga 2002 ekspor kayu jati pernah kami lakukan namun terhenti karena ketersediaan bahan baku lokal terbatas,” kata salah seorang eksportir kayu jati  Ilham Tahir di Kendari, Kamis (15/10).
Menurut Ilham, prospek ekspor kayu jati cukup besar namun karena ketersediaan bahan baku pada waktu itu yang terbatas,  kegiatan ekspor pun hanya dilakukan pada waktu tertentu.
Namun, belakangan ini tanaman kayu jati putih yang dikembangkan masyarakat di sejumlah daerah di Sultra rata-rata sudah mulai berproduksi namun terkendala pada masalah pemasaran. “Dengan peluang ini, kami akan kembali berupaya untuk kegiatan ekspor dengan harapan ketersediaan bahan baku mencukupi,” katanya dikutip Antara.
Di Jepang, bahan baku kayu jati putih tersebut digunakan untuk berbagai kebutuhan industri perabot rumah tangga yang menghasilkna berbagai produk cinderamata bernilai jual karena serat dan warna kayu  bila sudah diolah hasilnya cukup bagus. Bahkan, pengusaha di Jepang menjadikan produk kayu jati putih untuk menghiasi bagian atas (langit-langit) rumah, hotel, dan restoran mewah.
“Meskipun dari segi kualitas kayu itu masuk dalam kategori  sebagai kayu kelas bawah, namun karena proses pengolahannya dengan menggunakan teknologi maju, harga jual dipasaran tetap bersaing dengan produk kayu kualitas tinggi,” katanya.
Ilham yang juga sabagai tokoh masyarakat yang merintis usaha pengembangan dan penyediaan bibit kayu jati putih pada era 1997 itu mengatakan, luas areal tanaman kayu jati milik petani yang siap diproduksi saat ini mencapai ribuan hektare.
“Kalau harga kayu jati putih pada 2000-an hanya berkisar antara Rp 5 juta per ha, dengan permintaan pasar mancanegara saat ini harganya bisa mencapai Rp 50-Rp100 juta per hektare, tergantung pada diameter kayu tersebut,” katanya.(tb)
(sumber : Tribun Timur)




Kayu Jabon salah satu alternatif kayu Sengon

12 06 2010

 

Sengon adalah jenis pohon yang sangat populer di masyarakat untuk berbagai keperluan. Namun, seiring kelemahan sengon yang kerap terserang hama dan penyakit, pohon jabon muncul sebagai alternatif pengganti sengon.
Sabtu (31/1), Himpunan Profesi Mahasiswa Tree Grower Community (TGC) Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor (IPB) mengadakan seminar bertajuk Peluang Investasi Kebun Jabon Sebagai Pengganti Sengon di Lahan Tidur.
Menurut Prof Surdiding Ruhendi yang menjadi pembicara dalam kegiatan itu, tanaman jabon memiliki prospek yang baik untuk dikembangkan karena bernilai ekonomis tinggi. “Saya rasa tanaman jabon cukup memenuhi syarat untuk industri kayu lapis. Kayu jabon mudah dibuat venir (lapisan tipis kayu yang diperoleh dengan cara dikupas, red) dan mudah dikeringkan,” paparnya.
Surdiding mengemukakan pemanfaatan jabon cukup banyak. Diantaranya sebagai bahan baku korek api, peti pembungkus, cetakan beton, mainan anak-anak, pulp dan konstruksi darurat yang ringan.
Hal tersebut juga ditegaskan pembicara PT Andatu Lestari Plywood Lampung Artha Aryesta. Menurut dia, keterbatasan bahan baku menyebabkan perusahaan-perusahaan yang memproduksi kayu lapis harus memilih kayu-kayu yang terdapat pada lahan masyarakat sekitar.
“Misalnya, perusahaan kami bekerjasama dengan masyarakat tani sekitar. Kami bagikan bibit dan setelah panen kami pasti beli kepada petani yang bersangkutan dengan harga yang pantas,” paparnya.
Pohon jabon itu sendiri adalah jenis pohon asli Indonesia yang secara alami menyebar di seluruh Sumatera, Jawa Barat, Jawa Timur, Kalimantan Selatan dan sebagainya. Pohon ini memiliki bebas cabang 30 meter dan memiliki diameter hingga 160 sentimeter.
Menurut Irdika Mansur yang juga menjadi pembicara seminar, pohon jabon bisa dikatakan sebagai salah satu jenis pohon unggulan. Selain bisa merontokkan sendiri cabang-cabangnya, pohon jabon juga memiliki kecepatan tumbuh yang relatif singkat. Pohon jabon berpotensi dikembangkan sebagai pengganti sengon yang kerap terserang hama dan penyakit.
Pembicara lain dalam seminar tersebut adalah Dirjen Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial (RLPS) Indriastuti. Dia menjelaskan tentang bagaimana potensi lahan kritis untuk pengembangan jabon. Dalam pemaparannya berdasarkan hasil identifikasi Balai Pengelolaan DAS, di Indonesia terdapat 77 juta hektare lahan kritis. Untuk itu, dia sangat mendukung kebijakan pemerintah dalam hal rehabilitasi hutan.
Menurut dia, program-program Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL) seperti Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan (GERHAN) perlu terus ditingkatkan.
Selain mahasiswa, hadir pula kelompok tani dari berbagai daerah seperti Sumedang, Banjarnegara, Cihideung dan sebagainya. Tak ketinggalan elite bisnis turut hadir dan diharapkan bisa ikut ambil bagian dalam pemanfaatan pohon jabon.
Menurut Ketua TGC Muhammad Rifai, acara ini untuk menginformasikan dan memberi gagasan kepada masyarakat terkait peluang investasi kebun jabon sebagai alternatif tanaman sengon. Melalui seminar ini, TGC juga mendukung dan merangsang minat masyarakat maupun elite bisnis dalam program pemanfaatan lahan tidur.
Sumber : Radar Bogor -http://kayujabon.blogspot.com-




Mengenal Sengon/Albasia

9 04 2010

MORFOLOGI DAN ANATOMI

A. Morfologi

Klasifikasi

Divisi : Spermatophyta

Sub divisi : Angiospermae

Kelas : Dicotyledonae

Bangsa : Fabales

Famili : Fabaceae

Sub Famili : Mimosoidae

Marga : Paraserianthes

Jenis : Paraserianthes falcataria

Sinonim : Albizia moluccana Miq. Albizia
falcata
Backer; Albizia falcataria (L.) Fosberg.

Nama lokal/daerah : Sengon (umum), jeungjing
(Sunda), sengon laut (Jawa), sika(Maluku), tedehu pute (Sulawesi), bae, wahogon
(Irja).

Deskripsi
botani

Batang

Pohon berukuran sedang sampai besar, tinggi dapat
mencapai 40 m, tinggi batang bebas cabang 20 m. Tidak berbanir, kulit licin,
berwarna kelabu muda, bulat agak lurus. Diameter pohon dewasa bisa mencapai 100
cm atau lebih. Tajuk berbentuk perisai, jarang, selalu hijau.

Daun

Daun sengon tersusun majemuk menyirip ganda
panjang dapat mencapai 40 cm, terdiri dari 8 – 15 pasang anak tangkai daun yang
berisi 15 – 25 helai daun, dengan anak daunnya kecil-kecil dan mudah rontok.
Warna daun sengon hijau pupus, berfungsi untuk memasak makanan dan sekaligus
sebagai penyerap nitrogen dan karbon dioksida dari udara bebas.

Akar

Sengon memiliki akar tunggang yang cukup kuat
menembus kedalam tanah, akar rambutnya tidak terlalu besar, tidak rimbun dan
tidak menonjol kepermukaan tanah.

Akar
rambutnya berfungsi untuk menyimpan zat nitrogen, oleh karena itu tanah

disekitar
pohon sengon menjadi subur.

Bunga

Bunga tanaman sengon tersusun dalam bentuk malai
berukuran sekitar 0,5 – 1 cm, berwarna putih kekuning-kuningan dan sedikit
berbulu. Setiap kuntum bunga mekar terdiri dari bunga jantan dan bunga betina,
dengan cara penyerbukan yang dibantu
oleh angin atau serangga.

Buah

Buah sengon berbentuk polong, pipih, tipis, tidak
bersekat-sekat dan panjangnya sekitar 6 – 12 cm. Setiap polong buah berisi 15 –
30 biji. Bentuk biji mirip perisai kecil, waktu muda berwarna hijau dan jika
sudah tua biji akan berubah kuning sampai berwarna coklat kehitaman,agak keras,
dan berlilin

Benih

Pipih, lonjong, 3 – 4 x 6 – 7 mm, warna hijau,
bagian tengah coklat. Jumlah benih 40.000 butir/kg. Daya berkecambah rata-rata
80%. Berat 1.000 butir 16 – 26 gram.

Kegunaan

Merupakan kayu serba guna untuk konstruksi ringan,
kerajinan tangan, kotak cerutu, veneer, kayu lapis, korek api, alat musik,
pulp. Daun sebagai pakan ayam dan kambing. Di Ambon kulit batang digunakan
untuk penyamak jaring, kadang-kadang sebagai pengganti sabun. Ditanam sebagai pohon pelindung, tanaman hias, reboisasi dan penghijauan.

B. Anatomi

Nama botanis: (Paraserianthes
falcataria
(L) Nielsen), syn. Albizia falcata Backer,
famili Mimosaceae. Nama daerah :Albizia, bae, bai, jeungjing, jeungjing laut,
jing laut, rare, salawaku, salawaku merah, salawaku putih, salawoku, sekat,
sengon laut, sengon sabrang, sika, sika bot, sikas, tawa sela, wai, wahagom,
wiekkie.Nama lain : Batai (Malaysia Barat, Sabah, Philipina, Inggris, Amerika
Serikat, Perancis, Spanyol, Italia, Belanda, Jerman); kayu machis (Sarawak);
puah (Brunei). Penyebaran : Seluruh Jawa, Maluku, Irian Jaya.

Ciri umum : Kayu teras berwarna hampir putih atau coklat
muda pucat (seperti daging) warna kayu gubal umumnya tidak berbeda dengan kayu
teras. Teksturnya agak kasar dan merata dengan arah serat lurus, bergelombang
lebar atau berpadu. Permukaan kayu agak licin atau licin dan agak mengkilap.
Kayu yang masih segar berbau petai, tetapi bau tersebut lambat laun hilang jika
kayunya menjadi kering. Sifat kayu : Kayu sengon termasuk kelas awet IV/V dan
kelas IV-V dengan berat jenis 0,33 (0,24-0,49). Kayunya lunak dan mempunyai
nilai penyusutan dalam arah radial dan tangensial berturut-turut 2,5 persen dan
5,2 persen (basah sampai kering tanur). Kayunya mudah digergaji, tetapi tidak
semudah kayu meranti merah dan dapat dikeringkan dengan cepat tanpa cacat yang
berarti. Cacat pengeringan yang lazim adalah kayunya melengkung atau memilin.
(Martawijaya dan Kartasujana, 1977).

Kayu sengon digunakan untuk tiang bangunan rumah,
papan peti kemas, peti kas, perabotan rumah tangga, pagar, tangkai dan kotak
korek api, pulp, kertas dan lain-lain

Studi
Perbandingan Metode Sampling Bor Riap dengan Disk untukPengukuran Proporsi dan
Dimensi Serat Kayu Sengon Salomon(Paraserianthes falcataria, (L.)
Nielsen)

Penggunaan metoda bor riap dan metoda disk
tidakmemberikan perbedaan yang nyata untuk pengukuran dimensi serat. Demikian juga terhadap proporsi sel juga tidak memberikan perbedaan
yang nyata sebagai akibat perbedaan
penggunaan kedua metoda tersebut. Letak
kedudukan kayu pada arah radial tidak memberikan perbedaan yang nyata terhadap
hasil pengukuran proporsi tipe sel. Untuk dimensi serat terdapat variasi sebagai berikut Panjang serat berbeda nyata pada arah
radial, dimana panjang serat untuk bagian dekat kulit lebih panjang dibanding
bagian dekat hati, demikian juga untuk tebal dinding sel kayu. Diameter serat dan diameter lumen tidak berbeda
nyata pada arah radial kayu (Praptoyo,2005)

DAFTAR PUSTAKA

Martawijaya. A, I. Kartasujana. 1977.
Ciri Umum, Sifat dan Kegunaan Jenis-Jenis Kayu Indonesia. Publikasi Khusus No.
41. LPHH, Bogor.

Praptoyo,H.,2005. Studi
Perbandingan Metode Sampling Bor Riap dengan Disk untuk Pengukuran Proporsi dan
Dimensi Serat Kayu Sengon Salomon (Paraserianthes falcataria, (L.)
Nielsen) J. Ilmu & Teknologi Kayu Tropis Vol.3 • No. 2 • 2005

www.dephut.go.id/budidayasengon/j/54/5 diakses 3
desember 2008
.

(dari blog : http://sanoesi.wordpress.com/2008/12/18/mengenal-kayu-sengon-paraserianthes-falcataria/)





Investasi Hijau – Kutibin Farm

11 02 2010

Berinvestasi sambil menanam pohon, terutama pohon sengon/albaziah ataupun pohon industri yang lainnya seperti, jabon, jati putih dan lainnya memang bukan pekerjaan mudah tetapi bisa mendapatkan beberapa keuntungan, keuntungan secara alamiah adalah bumi/lahan menjadi hijau dan memperkuat tanah, hal ini memberikan tambahan paru-paru untuk bumi kita (kebayang anak cucu kita di masa depan) dan serapan air yang bagus.

Keuntungan yang lainnya adalah secara bisnis, dalam jangka 5 tahun kedepan, akan memberikan hasil yang sangat menggiurkan.

Bahkan menanam pohon (yang berarti kita memeliharanya) juga mempunyai nilai ibadah, karena kita tidak termasuk yang merusak bumi ini.

Bayangkan, untuk 1 hektar yang ditanam pohon sengon dalam waktu 5 tahun dapat memberikan keuntungan ratusan juta, menggiurkan bukan? dibandingkan dengan investasi dalam bentuk deposito sih, menanam pohon akan lebih jauh menguntungkan.

Ketika anda berpartner dan berbaik hati dengan bumi ini dengan tidak merusaknya, maka bumi ini akan memberikan keuntungan yang sangat setimpal.








Follow

Get every new post delivered to your Inbox.